Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kebudayaan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kebudayaan Islam. Tampilkan semua postingan

Dinasti Fathimiyah


BAB I
PENDAHULUAN
Apabila dikaji secara mendalam tentang aliran-aliran dalam Islam, maka akan ditemukan aliran Syi’ah. (Aliran ini timbul akibat gejolak politik antar Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam Syi’ah terdapat sekte Imamiyah ) yang menjadi embrio timbulnya sekte Ithna Ashar  (dan sekte Imam Sab’ah ) atau yang lebih dikenal dengan sekte Isma’iliyah). Sekte Isma’iliyah mempunyai beberapa aliran), salah satunya adalah aliran Fatimiya).
Dalam perkembangan sejarahnya, aliran Syi’ah selalu menjadi golongan marginal, baik pada masa daulah Umaiyah maupun daulah Abasiyah, walaupun tatkala Daulah Abasiyah berjuang dan berhasil mengambil alih kekuasaan dari bani Umayyah mempunyai andil besar. Baru pada tahun 172 Hijriyah/ 789 Masehi berdiri Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Muhammad ibn Abdullah di Maroko. Dinasti Idrisiyah berkuasa sampai tahun 314 Hijriyah/ 926 Masehi).
Kondisi marginalistik ini membangkitkan aliran Syi’ah dari sekte Isma’iliyah. Gerakan Isma’iliyah ini dipelopori oleh Abdullah ibn Isma’il bersifat gerakan bawah tanah (rahasia). Hal ini disebabkan antara lain sikap Khalifah Harun Al-Rashid yang ingin menangkapnya karena dituduh ingin merebut kekuasaannya. ) Konon, setelah menerima kabar akan penangkapan dirinya, Abdullah meloloskan dirinya dari Madinah ke kota Rayy dalam wilayah Iran Utara. Dari sinilah Abdullah mulai melancarkan gerakan bawah tanah yang terkenal dengan gerakan Isma’iliyah. Gerakan ini dimulai dengan kegiatan dakwah (propaganda). Doktrin yang didakwahkan antara lain bahwa Abdullah yang berhak menduduki Al-Mahdi (juru selamat manusia), menebalkan seorang khalifah (imam) untuk gerakan itu, menuntut berlangsungnya suatu revolusi social, membangun suatu system filasafat yang berdasarkan sebuah agama baru). Penyebaran doktrin ini dilaksanakan oleh paragon (da’i) dengan jaringan yang teroganisir secara rapi, sehingga gerakan Isma’iliyah ini merasa aman dan dirasakan cukup efektif, yang pada waktu singkat (sekitar 6 tahun) sudah meliputi Yaman, Bahrain, Sind, India, Mesir,dan Afrika utara).
Sebenarnya sasaran dakwah gerakan Isma’iliyah itu masih termasuk dalam kekuasaan Daulah Abbasiyah, yang ketika itu posisi khalifah tidak hanya sebagai simbol dan daerah-daerah itu jauh dari pusat kekuasaan. Hal-hal yang demikian ini dimanfaatkan oleh Abdullah segera mendapat dukungan di kalangan masyarakat luas, termasuk para pembesar kerajaan tidak kurang dari sepuluh orang sudah menganut faham Syi’ah. Pada saat itu Afrika Utara dikuasai oleh Dinasti Aqhlabiyah. Pada tahun 296 Hijriyah/ 909 Masehi Dinasti Aqhlabiyah diperintah oleh Emir Abu Mudhari Ziadatullah yang bersifat glamour dan berfoya-foya. Sifatnya itu sangat tidak disukai rakyatnya, sehingga kesempatan ini dipergunakan oleh Abdullah untuk menyerangnya. Dalam serangan ini Emir merasa terdesak dan melarikan diri ke pulau Sicilia. Dengan dikuasainya Afrika Utara ini kemudian diumumkan terbentuknya Dinasti Fatimiyah dan Abdullah sebagai Emirnya dengan gelar Abdullah A-Mahdi).
Setelah menjadi Emir, Abdullah Al-Mahdi mengadakan reformasi ke dalam, yaitu merubah sistem perpajakan yang sangat memberatkan dan meresahkan orang Barbar. Hal ini dilakukan karena andil orang Barbar sangat besar. Reformasi ke luar adalah memperkuat angkatan laut untuk mengembangkan ekspedisi militer, seperti Genao, Sicilia dan Mesir. ) Berkat angkatan laut yang kuat daerah per daerah dapat ditaklukkan, termasuk Mesir. Dalam makalah ini akan dibahas tentang terbentuknya Dinasti Fatimiyah, perkembangan, kemajuan dan kehancurannya.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    SEJARAH KEMUNCULAN
Dinasti Fathimiyah merupakan dinasti bermadzhab syi’ah yang berdiri pada tahun 910 Masehi yang berpusat di Tunisia Mesir, yang kemudian dipindahkan ke Kairo pada tahun 971 Masehi. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Mahdi merupakan cucu Isma’il ibn Ja’far al-Shidiq (Imam Syi’ah ke-7).
Setelah kematian Imam Ja’far al-Shadiq, Syi’ah terpecah menjadi dua cabang. Cabang pertama meyakini Musa al-Kazim sebagai Imam ketujuh pengganti Imam Ja’far, sedangkan cabang kedua meyakini bahwa Isma’il ibn Muhammad al-Maktum sebagai Imam Syi’ah ketujuh.
Cabang Syi’ah kedua ini dinamakan Syi’ah Isma’iliyah, yang oleh Abdullah ibn Maymun dibentuk sebagai sebuah system gerakan politik keagamaan.
Pada tahun 874 M Abdullah ibn Maymun menunjuk Abu Abdullah al-Husayn untuk menggantikan kepemimpinanya setelah Ia wafat. Abu Abdullah al-Husayn berhasil menegakkan pengaruhnya di Afrika Utara.Setelah berhasil menegakkan pengaruhnya, Abu Abdullah al-Husayn menulis surat kepada Imam Isma’iliyah yakni Sa’id Ibn Husayn al-Salamiyah agar menggantikan kepemimpinanya. Sa’id menyetujui permintaan tersebut dan memplokamirkan dirinya sebagai putra Muhammad al-Habib, seorang cucu Imam Isma’il.
Setelah berhasil merebut kekuasaan Ziyadatullah, Ia memplokamirkan dirinya sebagai pimpinan tertingi gerakan Isma’iliyah. Selanjutnya gerakan ini berhasil menduduki Tunis, pusat pemerintahan dinasti Aghlabi pada tahun 909 M, dan sekaligus mengusir penguasa Aghlabi yang terakhir yaitu Ziyadatullah. Sa’id kemudian memplokamirkan diri sebagai imam dengan gelar “Ubaydullah al-Mahdi”. Dengan demikian terbentuklah pemerintahan dinasti Fathimiyah di Afrika Utara dengan al-mahdi sebagai khalifah pertamanya.



B.     POLITIK DAN PEMERINTAHAN
Fathimiyyah adalah Dinasti syi’ah yang dipimpin oleh 14 Khalifah atau imam di Afrika dan Mesir tahun 909–1171 M, selama lebih kurang 262 tahun. Para kahlifah tersebut adalah:
1.      ‘Ubaidillah al Mahdi (297-322 H/909 M)
2.      Al–Qa’im (323-335 H/934-949 M)
3.      Al–Manshur (339-343 H/949-953 M)
4.      Al–Mu’izz (355-365 H/965-975 M)
5.      Al–‘Aziz (365-386 H/975-996 M)
6.      Al–Hakim (386-412 H/996-1021 M)
7.      Azh–Zhahir (412-426 H/1021-1036 M)
8.      Al–Musthansir (427-487 H/1036-1095 M)
9.      Al Musta’li (487-495 H/1095-1101 M)
10.  Al–Amir (491-521 H/1101-1131 M)
11.  Al–Hafizh (521-539 H/1131-1149 M)
12.  Azh–Zhafir (539-544 H/1149-1154 M)
13.  Al–Faiz (544-550 H/1154-1160 M)
14.  Al–‘Adhid (550-561 H/1160–1171 M)

Pada tahun 1094 M, setelah al-Muntasir wafat, terjadi perpecahan dalam gerakan ma’iliyah, yaitu kelompok Nizar yang sangat ekstrim dan Musta’ali yang lebih moderat. Dia mempertahankan kekhalifahan, namun basis kespiritualan lebih banyak melemah.
Berdirinya Dinasti ini bermula menjelang abad ke-X, ketika kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad mulai melemah dan wilayah kekuasaannya yang luas tidak terkordinir lagi. Kondisi seperti inilah yang telah membuka peluang bagi munculnya Dinasti-Dinasti kecil di daerah-daerah, terutama di daerah yang Gubernur dan sultannya memiliki tentara sendiri. Kondisi ini telah menyulut pemberontakan-pemberontakan dari kelompok-kelompok yang selama ini merasa tertindas serta memberi kesempatan bagi kelompok Syi’ah, Khawarij, dan kaum Mawali untuk melakukan kegiatan politik.
Dinasti Fathimiyah bukan hanya sebuah wilayah gubernuran yang independen, melainkan juga merupakan sebuah rezim revolusioner yang mengklaim otoritas universal. Mereka mendeklarasikan adanya konsep imamah yakni para pemimpin dari keturunan Ali yang mengharuskan sebuah redefinisi mengenai pergantian sejarah Imam atau mengenai siklus eskatologis sejarah.
Dinasti Fathimiyah berkuasa mulai (909–1173 M) atau kurang lebih 3 abad lamanya. Dinasti ini mengaku keturunan Nabi Muhammad melalui jalur Fatimah az-Zahro. Kelompok Syi’ah berpendapat bahwa Ismail bin Ja’far as-Sadiq yang wafat (765 M), bukannya Musa saudaranya Ismail, yang berperan sebagai imam ketujuh menggantikan ayah mereka (imam Ja’far). Berdasarkan kepemimpinan Ismail inilah sebuah gerakan politik keagamaan Ad da’wah Fatimiyah diorganisir. Gerakan ini berhasil merealisir pertama kali pembentukan pemerintahan Syi’i yang eksklusif. Sedangkan kebanyakan kaum sunni yang mengatakan bahwa Dinasti Fatimiyah keturunan dari Ubaidillah al- Mahdi, disebut Dinasti Ubaydiun (Khalifah I Dinasti Fatimiyah) dan berasal dari Yahudi.
Gerakan Syi’ah Fatimiyah ini membuktikan pada Dunia, bahwa potensi doktrin mesianik dan sentralistik. Walaupun Syi’ah menganggap Ismail sebagai Imam mereka, tetapi Isma’il tidak berperan secara independen, karena ia mati muda, bahkan sebelum ayahnya (Imam Ja’far). Kondisi inipun tidak menghalangi perkembangan doktrin Ismaili, dengan dominasi dari bani Abbasiyah, karena dua golongan ini merasa bersaudara. Ini berangkat dari Umul Fadhl pernah menyusui Husain anak Fatimah dan Ali, ketika ia melahirkan Dotham. Jadi menurut mereka bani Abbasiyah dan Syi’ah Fatimiyah merupakan saudara sesusuan.
Keberhasilan menancapkan doktrin Ismaili, dalam perkembangannya mampu memberi perlindungan imam-imam mereka di Salamiyah, Siria dan telah memudahkan pengorganisasian dakwah Fatimiyah. Meskipun dakwah Fatimiyah ini dimulai sejak dini, namun baru pada masa Abu Ubaidillah Husein, generasi keempat setelah Ismaili, baru mulai berkembang pesat. Doktrin dakwah populer yang disebarkan pada saat itu ialah berhaknya anak Ubaidillah atas posisi penyelamat (al-Mahdi). Doktrin ini menggunakan sistem jaringan para agen (du’ah jamak dari da’i), sehingga sangat efektif dan terorganisir secara rapi.
Ubaidillah yang memimpin dakwahnya dari Salamiyah dan Siria ke Afrika Utara, dimana propaganda Syi’ah telah berkembang dengan pesat. Ia memimpin dakwahnya dengan memenangkan dukungan luas dari daerah-daerah yang kurang diperhatikan oleh Kholifah Abbasiyah. Lewat da’i seperti Ali bin Fadl al-Yamani dan Ibnu al-Hawsyab al-Kufy, Yaman, termasuk ibu kotanya, dapat direbut. Dengan dikuasainya Yaman, ia dapat menyebarkan para da’i ke berbagai daerah, termasuk Afrika Utara, belahan timur antara Arabia dan India. Juga Afrika Barat dengan da’i Abu Abdullah asy-Syi’i. Yang mengemukakan konsep akan datangnya Imam Mahdi , dari keturunan Nabi. Para da’i tersebut akhirnya berhasil menjadikan kaum Barbar sebagai pendukung kepemimpinan Ubaidillah al-Mahdi. Selanjutnya, atas dukungan besar inilah, asy-Syi’i berhasil menduduki Roaqadah, pusat pemerintahan Dinasti Aghlabiyah. Akhirnya al-Mahdi yang baru menggantikan ayahnya, datang ke Tunis untuk dinobatkan sebagai Khalifah (909 M).
Karena tidak menguasai daerah kekuasaannya, maka ia banyak menggantungkan pada da’i, seperti asy-Syi’i. Namun karena yang disebut belakangan rupanya banyak memberikan harapan dan konsesi terhadap penduduk lokal, maka ia dianggap kurang memenuhi program al-Mahdi yang luas. Kemudian al-Mahdi membersihkan figur-figur yang dicurigai, termasuk asy-Syi’i. Dalam masa pemerintahannya, untuk memperluas kekuasaannya, yang bermaksud memberikan kompensasi pada kaum Barbar, ia mengadakan ekspedisi wilayah laut tengah, seperti; Genoa, Sisilia, Mesir.
Keberhasilan pemerintahan Fatimiyah ini ditandai dengan pindahnya pusat pemerintahan ke Kairo. Hampir seluruh daerah Afrika Utara bagian Barat dapat dikuasai Fatimi, terutama setelah menaklukan wilayah Maghrib yang dipimpin Jawhar asy-Siqilli (969 M) dan menaklukkan Dinasti terakhir di Fusthath Ikhsyidiyyah. Disana juga mulai membangun ibu kota baru di Mesir, yaitu al-Qohirah (970 M) serta Masjid al-Azhar sebagai pusat pendidikan para da’i dan Khalifah al Muizz pindah ke ibu kota baru tahun (973 M). Dinasti Fatimiyah ini akhirnya makin berkembang dalam berbagai aspek kehidupan, karena ditopang dengan kekuasaan yang luas dan mampu membangkitkan berbagai macam aksi yang bersifat wacanis (keilmuan), perdagangan, keagamaan, walaupun peralihan kekuasaan ke wilayah timur, berlahan-lahan melenyapkan kekuasaan mereka dibagian Barat. Terbukti, wakil mereka di Tunis, Bani Ziri (1041 M) menyatakan tak terikat dengan pemerintahan Fatimiyah.
Pada masa pemerintahan al-Mustanshir (1036-1094 M) Dinasti Fatimiyah mencapai puncak kekuasaannya setelah terlibat konflik dengan Yunani tentang masalah Suriah. Para Khalifah Fatimi umumnya membina hubungan damai dengan Byizantium, kemudian bersatu karena ancaman-ancaman Petualang Seljuk dan Trukmen di Suriah dan Anatholia pada abad II.
Tetapi pada akhir abad 11 terjadi aksi Salib I yang mengancam penguasa-penguasa Turki Suriah. Para Khalifah Fatimiyah, pada pertengahan abad 12 bekerja sama dengan Dinasti Zangiyyah; Nuruddin dari Aleppo dan Damasqus untuk melawan tentara Salib (The Crusaders II). Setelah Ascalon jatuh ke tangan tentara Salib, Dinasti Fatimiyah mulai terpecah-belah. Para Khalifah kehilangan kekuasaan dan para Wazirnya (Gubernur) memegang kepemimpinan ekskutif dan militer. Dari sini Dinasti Fatimiyah di akhiri oleh serangan Sahadin (Shalahudin), keponakan yang cakap sebagai pengganti Syirkuh yang menguasai Mesir (1173 M) di bawah pemerintahan Nuruddin putra Zangi dari Dinasti Ayyubiyah. Sekitar tahun 1171 M, Dinasti Fatimiyah ini berakhir.

C.    KEMAJUAN-KEMAJUAN YANG DICAPAI
Selama kurun waktu 262 tahun, Fatimiyah telah mencapai kemajuan yang pesat terutama pada masa Al-Muiz, Al-Aziz dan Al-hakim. Kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang, yaitu :
a.       Kemajuan dalam hubungan perdagangan dengan Dunia non Islam, termasuk India dan negeri-negeri Mediteramia yang KRISTEN.
b.      Kemajuan di bidang seni, dapat dilihat pada sejumlah dekorasi dan arsitektur istana.
c.       Dalam bidang pengetahuan dengan dibangunnya Universitas Al–Azhar.
d.      Di bidang ekonomi, baik sektor pertanian, perdagangan maupun industry.
e.       Di bidang keamanan.

D.    FAKTOR-FAKTOR  KEMUNDURAN
Sesudah berakhirnya masa pemerintahan Al-Aziz, pamor Dinasti Fatimiyyah mulai menurun. Kalaupun pada masa al-Munthasir sempat mengalami kejayaan, itu tidaklah
seperti apa yang telah dicapai oleh al-Aziz.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Fathimiyah adalah :
a.       Para penguasa yang selalu tenggelam dalam kehidupan yang mewah.
b.      Adanya pemaksaan ideologi Syi’ah kepada masyarakat yang mayoritas Sunni
c.        Kondisi al-‘Adhid (dalam keadaan sakit) yang dimanfaatkan oleh Nur ad-Din.
Dalam kondisi khilafah yang sedang lemah, konflik kepentingan yang berkepanjangan diantara pejabat dan militer. Merasa tidak sanggup, akhirnya al-Zafir meminta bantuan kepada Nur al-Din dengan pasukan yang dipimpin oleh Salah al-Din Al-Ayyubi. Mula-mula ia berhasil membendung invasi tentara Salib ke Mesir. Akan tetapi kedatangan Salah al Din untuk yang kedua kalinya tidak hanya memerangi pasukan Salib, tetapi untuk menguasai Mesir.
Dengan dikalahkannya tentara Salib sekaligus dikuasainya Mesir, maka berakhirlah riwayat Dinasti Fatimiyah di Mesir pada tahun 1171 M yang telah bertahan selama 262 tahun.

E.     PENINGGALAN BERSEJARAH
Di antara peninggalan Dinasti Fatimiyah, ada dua bangunan yang amat bersejarah dan keberadaannya hingga kini masih bisa dirasakan, bahkan mengalami perkembangan pesat. Peninggalan-peninggalan itu adalah :
a.       Universitas Al–Azhar yang semula adalah masjid sebagai pusat kajian. Masjid ini didirikan oleh al-Saqili pada tanggal 17 Ramadlan (970 M). Nama Al–Azhar diambil dari al-Zahra, julukan Fatimah, putri Nabi SAW dan istri Ali bin Abi Thalib, imam pertama Syi’ah.
b.      Dar al-Hikmah (Hall of Science), yang terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh al-Ma’mun di Baghdad.






BAB III
PENUTUP
A.       KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari pembahasan sejarah dinasti Fathimiyah iniantara lain:
1.      Dinasti Fathimiyah berdiri pada tahun 910 M, yang berpusat di Tunisia (ibukota Mahdia), Mesir 971 M (kemudian ibukaota dipindah ke Kairo).
Dinasti ini didirikan oleh Abdullah Al-Mahdi sebagai dinasti yang bermadzhab Syi’ah.
2.      Dinasti Fathimiyah berhasil menyebarkan pengaruhnya di Afrika Utara, Sisilia, Pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Zaman, dan Hijaz
3.      Selama kekuasaan Dinasti Fathimiyah ini telah terjadi pergantian pemimpin selama 14 kali.
4.      Selama kurun waktu 262 tahun, Fatimiyah telah mencapai kemajuan yang pesat terutama pada masa Al-Muiz, Al-Aziz dan Al-hakim. Kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang.
5.      Sesudah berakhirnya masa pemerintahan Al-Aziz, pamor Dinasti Fatimiyyah mulai menurun. Dan berakhir pada tahun 1171 M.
6.      Ada dua peninggalan bersejarah yang saat ini masih ada yaitu Universitas Al-Ahzar dan Dar al-Hikmah.











DAFTAR PUSTAKA

1.      Ali, K. 1997. Sejarah Islam Dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani (Tarikh Pramodern). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2.      Hasan, Ibrahim Hasan. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang.









Turki Utsmani


A.    Sejarah Berdirinya Kerajaan
1.      Didirikan oleh Utsman (putera Ertoghrul) yang memerintah pada 1290-1326 M.
2.      Keluarga Utsman adalah bangsa Turki yang berdiam di daerah Asia Tengah. Karena tekanan bangsa Mongol mereka lari dan bergabung dengan Kerajaan Turki Seljuk.
3.      Ketika kerajaan Turki Seljuk kalah dari bangsa Mongol, keluarga Utsmani mendeklarasikan berdirinya kerajaan Turki Utsmani.

B.     Lima Periode Kekuasaan Utsmani
1.      Periode I(1299-1402) :pertumbuhan dan perkembangan kekuasaan yang disusul dengan perluasan wilayah hingga menyeberang ke daratan Eropa. Kekuatan Timur Lenk kemudian dapat membendung langkah maju Turki Utsmani, di mana mereka dapat merebut wilayah Timur kerajaan pada 1402.
2.      Periode ke II (1403-1566). Masa transisi; anak-anak Bayazid berebut kekuasaan, sampai akhirnya dikuasai penuh oleh Muhammad. Muhammad al-Fatih menaklukan Konstantinopel pada 1453, sementara Salim menaklukan Mesir pada 1517
3.      Periode ke III (1566-1703). Hanya bertahan dan tidak terjadi perluasan wilayah; bahkan ada wilayahnyayang sudah jatuh (seperti Hongaria) ke pihak musuh.
4.      Periode ke IV (1703-1839) masa kemunduran.
5.      Periode ke V (1839-1924) terjadi modernisasi sampai kemudian jatuh pada 1924. Berdirilan Republik Islam Turki.

C.     Kemajuan-Kemajuan Turki Usmani
1.      Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
a.       Mengorganisasi taktik, strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik  dan teratur. Sehingga terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah.
b.      Membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur.
c.       Gubernur mengepalai daerah tingakat I. Di bawahnya terdapat beberapa bupati. Untuk mengatur urusan pemerintahan Negara.
d.      Di masa Sultan Sulaiman I dibuatlah UU yang diberi nama Multaqa Al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19.
2.      Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
a.       Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak diserap dari Bizantium. Dan ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf diambil dari Arab.
b.      Dalam bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Usmani tidak begitu menonjol karena mereka lebih memfokuskan pada kegiatan militernya, sehingga dalam khasanah Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Usmani.
3.      Bidang Keagamaan
a.       Fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku
b.      Para Mufti menjadi pejabat tertinggi dalam urusan agama dan beliau mempunyai wewenang dalam memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang terjadi dalam masyarakat.
Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kerajaan Turki Usmani tersebut tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, antara lain:
1.      Mereka adalah bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat.
2.      Mereka memiliki kekuatan militer yang besar.
3.      Mereka menghuni tempat yang sangat strategis, yaitu Constantinopel yang berada pada tititk temu antara Asia dan Eropa (Al Nadwi, 1987:244).
4.      Keberanian, ketangguhan dan kepandaian taktik yang dilakukan olah para penguasa Turki Usmani sangatlah baik, serta terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil.




D.    Kemunduran Turki Usmani
Kemunduran Turki Usmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal
diantaranya perebutan kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman
sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga
karena melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang mengakibatkan kekalahan dalam mengahadapi beberapa peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan semestinya.
Selain faktor diatas, ada juga faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Usmani
mengalami kemunduran, diantaranya adalah :
1.      Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas
2.      Heterogenitas Penduduk
3.      Kelemahan para Penguasa
4.      Budaya Pungli
5.      Pemberontakan Tentara Jenissari
6.      Merosotnya Ekonomi
7.      Terjadinya Stagnasi dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan